galau

sungguh sayang,kepergianmu tak ku iringi dengan setetes pun air mata.

Category: Academic  One Comment

Cerita inspirasi

Nama   ; Anggun Sasmita

Nrp      : C24100041

Lascar 6

AKU  TAK CINTA

Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah
dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah. Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya. Pukul 18.30. Tinnn……….. Tiiiinnnnn………….. !! Cassie kecil melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah.

Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu menghempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga. Bagi si kecil Cassie juga yang tentunya belum mengerti banyak. Di otaknya yang kecil, Cassie cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan Papa pulang.
“Mama, mama…. Mama, mama….” Cassie menggerak-gerakkan tangan Mama. Mama diam saja. Dengan cemas Cassie bertanya, “Mama sakit ya? Mananya yang sakit? Mam, mana yang sakit?” Mama tidak menjawab. Hanya
mengernyitkan alis sambil memejamkan mata. Cassie makin gencar bertanya, “Mama, mama… mana yang sakit? Cassie ambilin obat ya? Ya? Ya?”

Tiba-tiba… “Cassie!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!”
Mama membentak dengan suara tinggi. Kaget, Cassie mundur perlahan.
Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar. Bingung. Cassie salah apa?
Cassie sayang Mama… Cassie salah apa? Takut-takut, Cassie menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. Otak kecil Cassie terus bertanya-tanya: Mama, Cassie salah apa? Mama tidak suka dekat-dekat Cassie? Cassie mengganggu Mama? Cassie tidak boleh sayang Mama?

Berbagai peristiwa sejenis terjadi. Dan otak kecil Cassie merekam
semuanya.

Maka tahun-tahun berlalu. Cassie tidak lagi kecil. Cassie bertambah
tinggi. Cassie remaja. Cassie mulai beranjak menuju dewasa. TIN TIIIN ! Mama pulang. Papa pulang. Cassie menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan. “Cassie mana?”. “Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya.”

Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian berpikir
dengan hati terluka: Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan
susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku? Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua! Tidak seperti jaman dulu.

Di atas, Cassie mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam diam. Dari jauh. Dari tempat dimana ia tidak akan terluka.

Mama, Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?

HIDAYAH ITU TELAH DATANG

Saat itu, saya sedang menonton film di TPI. Saya tertarik menonoton film tersebut.

Film tersebut menceritakan seorang akhwat sholehah yang selalu berdzikir dimanapun dia berada, dia pun berkerudung dan sangat anggun. Dia bekerja di debah rumah yang buta tentang islam. Rumah itu dihuni oleh sepasang suami istri yang belun dikaruniai seorang anak. Mereka merupakan bisnisman dan bisniswoman. Selain sebagai pembantu, wanita tersebut mengajarkan mereka tentang agama.  Singkat cerita, wanita tersebut meninggal dunia dan setelah sepuluh tahun kemudian, jasad wanita tersebut terap utuh. Hati saya tergugah, waktu itu saya baru kalas 2 SMP.

Setelah menonton film tersebut, saya bertekad untuk berkerudung, dan saya melakukannya. Namun sayang, hal tersebut hanya bertahan satu semester saja. Waktu itu, saya berpikr saya masih mandi di WC umum dan aju olahraga saya pendek, jadi percuma saja jil\ka saya memakal jilbab. Saya pin melepad jilbab saya.

Hidayah pun datang kembali, mama saya membuat kamar mandi prubadi dan saya merasa sangat senang. Dalam hatu saya berjanji SAYA AKAN BENAR-BENAR BERKERUDUNG. Hidayah yang lain pun datang, saya masuk ke sekolah yang tidak saya inginkan, tapi di sana saya bertemu dengan kakak-kakak kelas yang bersikap sama seperti wanita yang ada di film itu. Saya pun semakin senamg, saya bersyukur atas hidayah ini. Setelah masuk ke sekolah ini pun, saya menemukan cahaya yang selama ini saya cari.